Laman

Mohon di like ya ^.^

Kamis, 30 Juli 2015

Aku Ternyata Masih Disini



(tulisan lama baru inget ngepost)

Aku ternyata masih disini dengan banyak harapan, masih tentang harapan. Di saat aku sadari aku harus menyerah, justru semakin erat harapan itu memelukku. Harapan apa ? aku bertanya. Selunjak kata keras mengecam bahwa aku tak akan mampu. Ia aku lemah. Sejatinya memang lemah. Aku hilang. Siapa aku ? Aku berdiri bahkan berlari. Untuk apa berlari? Hening.. hampa bisa dikatakan kosong tak ada arah. Tapi disaat aku terlupa, aku melihat bahkan bisa mengenal seseorang  yang begitu hangat. Perlahan oh bukan tapi segera aku terjerumus dalam hangatnya. Padahal tidak ada yang kurang dalam hidupku. Semua terasa nyaman dan menenangkan. Hari-hari berlalu seperti seharusnya. Tapi kali ini sesuatu yang berbeda bahkan satu-satunya hangat yang menggiurkan sekaligus membuatku cemas.
Aku akui, keberadaannya begitu tajam sehingga aku ikut tertusuk dan akhirnya terjerumus masuk dalam zona nya. Zona yang akhirnya sesat, sesat bagi jalanku. Ini nyata, sungguh. Kehangatan itu menjebakku ke dalam dinginnya lautan es. Ini perubahan yang menghilangkan jati diri, awalnya. Detik-detik hampir menjadi dirinya sungguh menyesakkan. Betapa kacau, hancur, bahkan sangat dingin hati yang membalut hangat sesungguhnya. Aku belum sadar, belum juga sadar. Aku hilang kendali.
Meskipun jalan kita berbeda, sesungguhnya tujuan kita sama. Namun sayang, aku terlambat. Kesadaranku terbangun saat aku sudah sangat jauh. Langkahku tertahan disini saja, menetap. Langkah yang dia lucuti hanya membuatku tertawa, sakit.
Hei, aku banyak berharap padanya, pada kejujurannya. Tapi ternyata hanya kebohongan belaka. Melihat hidupnya membuatku muak, memandang wajahnya membuatku kasihan, meninggalkannya… aku tidak bisa.
Haa, terkadang aku tertawa sediri
dengan hati yang kumiliki. Aku tidak pernah mengelak jika ada yang melihat aku lemah, tapi kenapa jika aku ingin bahkan sangat ingin meninggalkan seseorang aku tidak bisa ? hatiku terlalu kuat bertahan atau karena aku bodoh ?
Lalu jawaban itu muncul. Terima kasih untuknya. Hidupnya yang sesat itu menunjukkan jalan lama yang lelah aku cari. Jalan dingin yang telah ia lalui dalam langkahku terakhir mengarahkan aku kepada jalan hangat yang terbungkus kenangan pahit. Tidak lagi ada kekosongan itu. Ya aku menikmatinya dan aku menyukainya meskipun pahit.
Kepahitan dalam hidupku membuatku berharap, harapan yang muncul itu membuatku ingin hidup, dan hidupku aku abdikan untuk mereka, untuknya juga. Jikapun aku tidak mampu, aku masih bisa berharap lewat doa. Setiap saat. Dimana pun dia, dimana pun mereka … bantu semua untuk menemukan jalan hidup yang bahagia, Tuhan. Aku menyayanginya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar