Gelap dan sunyi hanya itu yang dirasakan Radit. Dalam kebingungan, ia mencari tahu di mana ia kini berada. Tiba-tiba dingin, tapi lembut seseorang menggenggam tangan Radit perlahan menuntunnya melangkah. Hingga di suatu tempat, langkah mereka terhenti. Radit tak pernah melepas pandangannya dari sosok misterius di depannya itu.
”Hai, kau siapa? Di mana ini ?,” tanya Radit. Seseorang itu berbalik perlahan diiringi cahaya pelangi menerangi mereka.
Ternyata seorang gadis dengan lesung pipi menghiasi kedua pipinya. Gadis itu tersenyum menatap mata Radit, perlahan melepas genggamannya kemudian hilang bersama sinar pelangi yang semakin terang.
“Happy birth day Radit, Happy birth day Radit… Happy birth day, happy birth day… Happy birth day Radit…,” nyanyian meriah itu yang ia dengar setelah suster membuka perban di matanya. Pelan-pelan Radit membuka mata. Satu kecupan Radit dapatkan dari Pratni kekasihnya. ”Selamat ulang tahun Beb”, dengan cerianya Pratni mengucapkan selamat ulang tahun kepada Radit yang disusul oleh sanak keluarganya yang lain. Hari ini adalah hari ulang tahun Radit yang ke 19 tahun .
Dalam keramaian Radit tersadar bahwa ia ada di rumah sakit dengan berbalut perban di beberapa bagian tubuhnya.
”Mam, ada apa denganku?”, Radit bertanya pada mamanya yang ketika itu ada di sampingnya. Sambil memegang bahu Radit, mamanya menjawab.
”Raditya Sanjaya, kemarin kamu kecelakaan dan Trisna yang menghubungi Mama. Keadaanmu sudah parah saat kamu dibawa ke rumah sakit. Kamu hampir buta dan kehilangan nyawamu Dit. Tapi Tuhan mendengar doa Mama. Ada seorang pendonor yang mendonorkan darah dan matanya untukmu.”
”Pendonor ? siapa Ma ?” tanya Radit serius. Namun, Mama Radit hanya membalas dengan senyuman. Radit semakin penasaran. Tiba-tiba Pratni menghampiri Radit.
”Radit, sudah malam... kamu istirahat yah. Aku pulang dan moga kamu cepet sembuh, aku sayang kamu Beb” kata Pratni sedikit manja sambil mencium kening Radit. Kepergian Pratni juga disusul oleh keluarga Radit yang lain.
Radit tidak bisa tidur malam itu. Masih teringat jelas mimpinya. Sosok gadis itu...
”Vina, seandainya kau melihat hujan hitunglah setiap tetes hujan yang turun, sebanyak itulah rinduku padamu”.
Itulah kata-kata indah yang dirangkai Radit untuk Vina. Vina adalah gadis yang sangat disayangi Radit. Tapi entah kenapa Vina pergi meninggalkan Radit tanpa alasan. Radit kemudian ingat, kemarin itu ia ingin menemui Vina. Tapi...
Beberapa minggu kemudian setelah kondisi Radit benar-benar pulih, Radit berniat menemui Vina. Tanpa pikir panjang Radit mengemudikan mobilnya dan pergi ke rumah Vina. Meskipun Radit memiliki Pratni, kekasih terbaiknya saat ini tetap saja sosok Vina sangat sulit ia hilangkan dari pikirannya.
Sesampainya di rumah Vina, yang Radit lihat hanya Tante Swari, Ibu Vina.
”Permisi Tante... ada Vinanya ?” Salam Radit dengan ramah.
”Radit ?” Tanya Tante Swari.
”Ia Tante” Jawab Radit.
”Raditya Sanjaya ?” Tanya Tante Swari lagi.
”Hmm, ia saya Tante...,” Jawab Radit sedikit heran,Tante Swari bisa langsung tahu.
”Vina dimana Tan?”
”Mari masuk dulu,silahkan duduk”
”Ia Tante, terimakasih”
Tante Swari mulai bercerita....
”Vina mencintaimu Dit , dia tak pernah bisa ninggalin kamu. Hanya raganya yang pergi. Dia takut kamu terluka jika tetap bersamamu. Vina selalu bercerita tentang kamu, dia bahagia pernah mengenalmu. Namun suatu saat dia kecewa ketika ia mengetahui kamu bertunangan dengan gadis lain dan tak pernah sekalipun kamu mencari Vina. Ternyata Vina masih tak bisa melupakan janjimu padanya”.
Radit tertegun mulai memahami apa yang terjadi. Radit juga ingat Vina pernah bertanya,
”Dit, jika suatu saat aku pergi tanpa alasan, apa kamu akan membenciku kemudian melupakanku?”
”Tidak! Aku sendiri yang akan mencarimu dan tak akan membiarkanmu pergi. Hanya kamu yang selalu ada saat aku membutuhkan seorang untuk bersandar saat aku terpuruk. Kamulah yang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku. Aku berjanji akan selalu ada untukmu Vin.”
Ingatan Radit buyar ketika Tante Swari melanjutkan ceritanya.
”Tapi Vina bisa menerimanya, dia tahu kamu bahagia dengan ruang hidupmu yang baru.
Vina selalu nampak ceria, cerewet, tak pernah seharipun ia lewatkan tanpa canda tawanya. Tapi Tante tahu, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia merindukanmu Dit. Vina pernah mengatakan bahwa ia ingin melakukan sesuatu untukmu. Meski yang terakhir kalinya, setelah itu...” Tante Swari tertunduk dan menangis.
”Setelah itu apa Tante ?” Tanya Radit tergesa-gesa ingin tahu.
”Mungkin Tuhan mendengar doa Vina. Di rumah sakit saat Vina sudah tak bisa menahan sakitnya lagi, Vina melihatmu dengan keadaanmu yang sudah parah. Saat itu, keadaan Vina juga sudah kritis, Vina melihat mata Tante dengan matanya yang seperti memohon. Dan kamu sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.”
”Jadi....”
”Ia, itu tatapan terakhir Vina untuk Tante.” sela Tante Swari.
Raut muka Radit tampak lemas dan sedih.
”Hmm, Vina sakit apa Tante.., ?” tanya Radit pelan.
”Dari kecil Vina menderita kelainan jantung.” Jawab Tante Swari sedikit terisak.
”Jadi itu alasan mengapa tangan Vina selalu dingin setiap aku pegang..,?” tanya Radit sedih.
Tante Swari hanya membalas dengan satu anggukan kepala.
”Maafkan Radit Tante,...” pinta Radit sambil tertunduk.
”Terimakasih ya Nak... Kamu pernah membahagiakan Vina.” Tante Swari menyela perkataan Radit.
Mulai hujan, begitu pula dengan deras badai dalam hati Radit. Radit kemudian meneduh di bawah pondok kecil di sebuah sawah. Tetes air mata tak bisa Radit bendung. Di sawah inilah terakhir Radit bertemu dengan Vina. Sengaja Radit mengajak Vina ke sawah ini saat ulang tahunnya, dua tahun yang lalu. Karena Radit tahu Vina sangat menyukai sawah. Saat itu Vina terlihat sangat bahagia. Bernyanyi dan merasakan angin sambil tersenyum bahagia. Senyum Vina sungguh menawan.
Sempat Vina menarik tangan Radit mengajak Radit ke sebuah pondok kecil. Langkah Radit terhenti menahan langkah Vina.
”Vin, kenapa tanganmu dingin gini,?” tanya Radit. Namun Vina tak menjawab dan hanya memberi Radit sebuah senyuman. Di bawah pondok ini mereka kemudian mengobrol, mengungkapkan apa yang ada dalam hati mereka.
Air mata Radit semakin deras tak bisa ia bendung, saat Radit mengingat dikala Vina mencium bibirnya.Satu-satunya ciuman dari Vina untuknya. Hadiah terindah yang pernah Radit miliki.
”Vina, seandainya kau tahu.. Aku tak bisa hidup tanpamu. Tak pernah seharipun aku tak memikirkanmu. Maaf aku menganggapmu jahat karena kau meninggalkanku, maaf aku tak menepati janjiku, aku memang bodoh. Tapi kenapa kamu pergi kayak gini Vin ? Kamu tahu aku butuh kamu!!!” teriak Radit bersama derasnya hujan.
”Aku bersamamu Dit...,” sebuah bisikan Radit dengar diikuti hembusan angin dingin menerpa tubuhnya.
”Vina.., ?” tanya Radit dalam hati.
Radit mengambil sesuatu di saku kemejanya. Satu origami kecil berwarna biru muda pemberian Vina.
”Hanya tinggal satu origami lagi..,” kata Radit sambil menarik nafas panjang kemudian membuka origami itu perlahan. Radit tertegun membaca tulisan di dalam origami itu.
”Jangan mati karena cinta. Aku bersamamu”
Radit berdiri, menjauh dari pondok dan membiarkan tubuhnya basah karena hujan hingga air matanya kini menetes bersama hujan.
”Kamu benar Vin, kamu tak pernah pergi. Kamu bahagiaku. Selalu ada di setiap aliran darahku, dan di setiap aku melihat..,” kata Radit sambil tersenyum menatap langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar