Guru di Sekolah Adalah Guru Kehidupan
Judul : Gara-gara Guru-guru
Penulis : Cepi Komara
Penerbit : Gradien Mediatama
Tabal : 128 hal; 11,5 x 19 cm
Cepi Komara yang sering dipanggil Ceko adalah penulis merangkap pengamen yang suka main band dan menjadi karyawan di sebuah perusaah swasta. Novel yang ditulis Ceko ini menrupakan “penggalan” cerita Ceko semasa bersekolah yang ditulis dengan alur yang runtut dan mudah dipahami karena sebagian besar dilami oleh sebagian besar dari kita.Ceko menyadari ia tak akan menjadi seperti ini tanpa bantuan, bimbingan, dan didikan dari guru-guru dari semasa SD, SMP, sampai SMA. Tapi Ceko tak pernah merasakan dibimbing oleh dosen karena ia tak pernah berkuliah. Adapun beberapa guru tervaforit Ceko yang pernah mengajarkan Ceko dan berpengaruh besar terhadap kepribadian dan karier Ceko di masa kini.
Sewaktu SD, Ceko paling suka dengan guru kelas satu yang cantik jelita bernama Bu Irin. Beliaulah yang pertama kali mengajarkan Ceko dasar-dasar baca tulis. Kalau lagi marah biasanya Bu Irin suka mencubit anak yang nakal. Namun Bu Irin mencubitnya dengan kasih sayang. Ceko sangat senang dicubit oleh Bu Irin dan karena ingin lebih sering dicubit, Ceko menjadi nakal sejak dini. Bu Irin mengajarkan Ceko tentang bagaimana rasa kangen itu muncul dari kasih sayang yang diberikan orang lain padanya.
Bu Lilis, guru kelas 6 Ceko menyadarkannya akan bakat yang dimiliki Ceko yaitu sebagai penulis. Kemudian Pak Hendra guru SMP sekaligus wali kelas Ceko semakin menyadarkan Ceko akan bakatnya tersebut. Sedangkan Ceko, singkatan dari Cepi Komara ia dapatkan dari Pak Dindin, guru Bahasa Daerah di SMP-nya yang suka menyingkat nama siswa.
Begitu beranjak SMA, Ceko megenal Pak Tamania. Pak Tasmania adalah satu-satu guru yang memberi nilai berdasarkan wajah dan fisik murid-muridnya. Kemudian Bu Sendang, guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas Ceko sudah kewalahan mendidik Ceko yang setiap kali tertidur saat pelajaran berlangsung. Alhasil sekarang Ceko tidak lancar berbahasa Inggris. Bu Sendang mengajarkan Ceko bahwa penyesalan selalu datang terlambat dan waktu berlalu tidak dapat ditarik kembali.
Di SMA juga ada guru Kimia, seorang pria, susah berumur, dan berdarah batak dengan marga Manurung. Pak Manurung ini adalah guru yang cuek, santai, akrab dengan anak-anak, baik hati, dan tidak galak. Suatu hari Pak Manurung malas mengajar. Beliau mempersilahkan siapa saja untuk mengajar, lebih tepatnya bertukar posisi dari guru menjadi siswa dan siswa menjadi guru.Tanpa berpikir panjang Ceko mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan maju ke depan. Pak Manurung menyarankan agar Ceko tidak mengajar Kimia karena Ceko adalah murid yang paling tidak paham. Ceko sadar lalu mulai menjelaskan tentang sebuah pelajaran sekolah yang ia kolerasikan dengan pelajaran kehidupan yaitu pelajaran Matemacinta. Matemacinta adalah pelajaran tentang persoalan cinta yang mungkin bisa diselesaikan dengan rumus matematika.Ceko mempunyai cita-cita untuk membuat buku tentang topik ini dan membuat rumus matematika untuk menyelesaikan masalah cinta yang ada di kehidupan manusia. Meskipun rumus-rumus matematika yang Ceko korelasikan seperti rumus Cintagoras untuk menyelesaikan soal cinta segita terkesan memaksa dan ngelantur tetap saja Ceko mendapat tepuk tangan yang meriah dari teman-temannya. Pak Manurung juga salut dengan Ceko dan memberikan Ceko setengah bungkus rokok. Ceko heran, jika guru-guru yang lain suka merazia anak-anak yang membawa rokok ke sekolah, Pak Manurung malah memberikan rokok secara cuma-cuma kepada Ceko.
Bu Lilis, Bu Irin, Pak Hendra, Pak Dinding, Bu Sendang, Pak Manurung adalah beberapa dari sekian banyak guru-guru yang berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian, masa depan, dan karier Ceko sampai sekarang. Karena guru-guru tersebut-lah Ceko tak hanya mengajarkannya membaca dan menulis alfabet, tapi juga mengajarkan bagaimana cara membaca pikiran dan hati orang lain.
Kelemahan dari novel ini yaitu keadian yang dipaparkan disini , seperti saat guru yang seharusnya melarang siswanya merokok malah memberikan Ceko rokok secara cuma-cuma. Memang benar itu terjadi sebagai rasa salut Pak Manurung terhadap imajinasi Ceko yang unik namun seharusnya seorang guru yang menjadi panutan hendaknya memberi penghargaan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar