Aku
ternyata masih disini dengan banyak harapan, masih tentang harapan. Di saat aku
sadari aku harus menyerah, justru semakin erat harapan itu memelukku. Harapan
apa ? aku bertanya. Selunjak kata keras mengecam bahwa aku tak akan mampu. Ia
aku lemah. Sejatinya memang lemah. Aku hilang. Siapa aku ? Aku berdiri bahkan
berlari. Untuk apa berlari? Hening.. hampa bisa dikatakan kosong tak ada arah.
Tapi disaat aku terlupa, aku melihat bahkan bisa mengenal seseorang yang begitu hangat. Perlahan oh bukan tapi
segera aku terjerumus dalam hangatnya. Padahal tidak ada yang kurang dalam
hidupku. Semua terasa nyaman dan menenangkan. Hari-hari berlalu seperti
seharusnya. Tapi kali ini sesuatu yang berbeda bahkan satu-satunya hangat yang
menggiurkan sekaligus membuatku cemas.
Aku
akui, keberadaannya begitu tajam sehingga
aku ikut tertusuk dan akhirnya terjerumus masuk dalam zona nya. Zona yang akhirnya sesat, sesat bagi jalanku. Ini nyata, sungguh. Kehangatan itu menjebakku ke dalam dinginnya lautan es. Ini perubahan yang menghilangkan jati diri, awalnya. Detik-detik hampir menjadi dirinya sungguh menyesakkan. Betapa kacau, hancur, bahkan sangat dingin hati yang membalut hangat sesungguhnya. Aku belum sadar, belum juga sadar. Aku hilang kendali.
aku ikut tertusuk dan akhirnya terjerumus masuk dalam zona nya. Zona yang akhirnya sesat, sesat bagi jalanku. Ini nyata, sungguh. Kehangatan itu menjebakku ke dalam dinginnya lautan es. Ini perubahan yang menghilangkan jati diri, awalnya. Detik-detik hampir menjadi dirinya sungguh menyesakkan. Betapa kacau, hancur, bahkan sangat dingin hati yang membalut hangat sesungguhnya. Aku belum sadar, belum juga sadar. Aku hilang kendali.
Meskipun
jalan kita berbeda, sesungguhnya tujuan kita sama. Namun sayang, aku terlambat.
Kesadaranku terbangun saat aku sudah sangat jauh. Langkahku tertahan disini
saja, menetap. Langkah yang dia lucuti hanya membuatku tertawa, sakit.
Hei,
aku banyak berharap padanya, pada kejujurannya. Tapi ternyata hanya kebohongan
belaka. Melihat hidupnya membuatku muak, memandang wajahnya membuatku kasihan,
meninggalkannya… aku tidak bisa.
Haa,
terkadang aku tertawa sediri dengan hati yang kumiliki. Aku tidak pernah
mengelak jika ada yang melihat aku lemah, tapi kenapa jika aku ingin bahkan
sangat ingin meninggalkan seseorang aku tidak bisa ? hatiku terlalu kuat
bertahan atau karena aku bodoh ?
Lalu
jawaban itu muncul. Terima kasih untuknya. Hidupnya yang sesat itu menunjukkan
jalan lama yang lelah aku cari. Jalan dingin yang telah ia lalui dalam
langkahku terakhir mengarahkan aku kepada jalan hangat yang terbungkus kenangan
pahit. Tidak lagi ada kekosongan itu. Ya aku menikmatinya dan aku menyukainya
meskipun pahit.
Kepahitan
dalam hidupku membuatku berharap, harapan yang muncul itu membuatku ingin
hidup, dan hidupku aku abdikan untuk mereka, untuknya juga. Jikapun aku tidak
mampu, aku masih bisa berharap lewat doa. Setiap saat. Dimana pun dia, dimana
pun mereka … bantu semua untuk menemukan jalan hidup yang bahagia, Tuhan. Aku
menyayanginya…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar