Siang itu tak seperti siang di hari Minggu, yang ada hanya satu suasana. Senja tak bermentari ditemani gerimis hujan yang menari mengikuti arah semilir angin. Tak ku sangka suasana itu akan menjadi suasana paling misterius dalam hidupku.
Di suasana itu, pertama kalinya aku bertemu dengannya. Diantara hijau padi yang masih muda kita nikmati suasana itu. Menikmati gerimis hujan. Di tengah dingin, pertama kali ku rasakan tubuh sehangat itu memeluk ku dari belakang. Erat ..
Tubuhku meleleh, tak pernah kurasakan tubuh sehangat itu. Genggaman tangannya yang membantuku berdiri, sungguh di suasana seperti itu kurasakan hangat yang begitu menyiksa hatiku dengan perih yang menyenangkan.
“Hai gerimis hujan, ternyata kau datang lagi..”
Pertemuan ku selanjutnya.. setelah aku dan dia bernyanyi. Kita ditemani gerimis hujan saat pulang. Bahkan dia sempat bilang “Ini namanya terlalu romantic va”
Dan aku hanya diam memeluk pinggangnya.
Pagi , setelah lebat hujan kemudian gerimis menyapa…
Ponselku berbunyi. Namanya terukir di layar dan dia katakana akan datang. Aku tersenyum..
Benarlah dia datang. Tapi dia tak bercahaya. Cahaya hanya dari langit yang kala itu sedikit cerah. Dia menangis dalam rangkulan wajahnya, walau tak berucap aku bias rasakan betapa dia menahan sakit. Hijaunya padi dan beberapa bunga bermekaran. Aku dan dia berjalan melewati indah senja itu. Tiba-tiba mendung mencuri cahaya menjatuhkan tetes demi tetes air hujan dengan lembut. Gerimis…
Aku dan dia memilih pondok di kiri jalan setapak. Dia mulai bicara. Gerimis hujan berhenti namun sebagai gantinya aku lihat satu tetes air jatuh dari matanya. Menyayat membuatku bisu.
Pertemuan demi pertemuan yang ditemani hujan gerimis aku lewati bersamanya. Mungkin hanya kebetulan tapi mengapa selalu..?
Dan aku tersadar setelah menjelajah ingatanku…
Sudah malam, aku kedinginan… Selimut pun tak mampu lepaskan dingin malam ini.
“Tuhan, aku ingin dia selalu bersama ku.. Utuh. Di setiap detik yang aku lewati”
Doa ku ucapkan lirih…
Iya, untuk dia doa itu. Dia yang selalu aku impikan. Dia yang tunjukan mimpi untukku. Dia yang tidak pernah ‘expired’ di pikiranku, hatiku…
Mungkin semua ini kebodohan, tapi peduli apa..? Bisa mencintainya saja aku sudah bersyukur. Aku anggap sebagai ujian hati. Aku hanya setia pada cintaku. Tak peduli apa aku menang atau diam di tempat. Yang jelas, aku sudah lakukan apa yang mestinya aku lakukan, bukan apa yang aku reka-reka.
“Tuhan, aku hanya tak ingin cinta ini sia-sia”
Jika sampai detik ini aku masih berharap dia datang dengan cintanya untukku itu karena aku memang masih menunggunya. Ini di luar batas nalar, ini tak ada dalam logika. Tapi, byarlah saja aku melaluinya sampai hati juga nafasku tak lagi mau memihak.
Malam semakin larut, ku pejamkan mata dengan tetes air mata. Tetes sebagai pertanda ada cinta yang tak terlupa. Di malam yang dingin, diantara gerimis hujan,hatiku berbisik…
Selamat malam kasih …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar